Sport and Fun Day

May 16, 2008

SPORT AND FUN DAY

“Hura, hura, We are going to have a very-very fun sport day”. Some students in lower grades yell.

Every year Harapan Bangsa School holds an event that we name sport and fun day. This event is one of the whole extra activities hold by the school. To build up students confidence, sportivity, and the spirit of competition is the ultimate goal of this event. Sport and fun day offer many kinds of competitions and games such as mini soccer, sprint, yelling, and many others. This competition really needs a teamwork. No body left behind in this event, all students and teachers took part in groups that was prepared by the commete.

Teacher’s evaluation noted that they are succefully run the programme. It is more organized than before because all students and teacher are totally get involved. Grade one and two was sepereted from grade three until grade six. This is to make easy to organized. The strategy was work.

I saw one side of this event is about elementary teachers teamwork. Eventhough they have to work over time for the preparation, but they feel happy to do the work. At last all teachers aware that teamwork is a must. It is like foundation of a bulidig. Work in a team make all our jobs finish easily. It is to remind about what Indonesians old proverb; “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. This is our first stem. I hope it will exist in the future.

Berkaca pada Cermin Retak

May 16, 2008

BERKACA PADA CERMIN RETAK

Pepatah klasik mengatakan demikian; “Pengalaman adalah guru yang baik”. Dikatakan

guru yang baik karena dari pengalaman-pengalaman itulah kita dapat belajar.

Tentu saja pengalaman yang membangun kepribdian secara

utuh sehingga menjadi lebih baik, sadar tentang apa yang salah dan berusaha mengendalikan

diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Hal yang dapat dijadikan contoh adalah

ketika seorang anak berusia tiga atau empat tahun bermain-main dengan pisau dapur lalu

tangan anak itu terluka. Anak itu menangis keras dan ketakutan karena banyak darah yang keluar. Lalu ibunya menasehati agar anaknya tidak bermain pisau lagi. “Lihatlah

akibatnya, tanganmu luka dan berdarah”, kata ibunya sambil marah-marah.

Di kritik adalah salah satu pengalaman berharga yang bisa membangunkan kita dari

kemapanan. Apa yang menurut kita sudah baik dan benar lalu dikritik. Rasanya sakit, bukan ? Namun bila kita terbuka terhadap kritikan itu mungkin kita mendapat suatu pelajaran yang berharga disana.

Awal tahun ajaran 2006/2007 telah diadakan pertemuan antara orang tua murid dan guru di Sekolah Harapan Bangsa. Disela-sela pertemuan itu dibagikan sebuah kuisoner yang maksudnya adalah meminta pendapat orang tua siswa tentang segala hal yang berhubungan dengan sekolah. Kalau saya membuat grafik perbandingan, masalah yang paling sering disorot adalah masalah yang berhubungan dengan pemakaian Bahasa Inggris dalam pengajaran di kelas-kelas maupun dalam percakapan sehari-hari dengan para siswa di sekolah. Mereka ternyata (orang tua) secara “diam-diam” mengamati para guru pada khususnya dan karyawan SHB pada umumnya. Dari sana saya berpikir kenapa hal itu sangat diperhatikan. Akhirnya saya sampai pada satu jawaban. O ya, orang tua betul. Sebab promosinya adalah “Daily intensive English and Chinese”. Sebagian orang tua yang telah mempercayakan anak-anaknya untuk dididik di sekolah ini melihat slogan itu tidak lebih dari iklan semata. Promosi itu dalam kenyataannya kurang bahkan bisa dikatakan sangat kurang. Orang tua merasa sudah menjalankan kewajibannya berupa membayar uang sekolah dan uang pangkal yang cukup mahal harus menerima kenyataan bahwa anaknya tidak mengalami kemajuan yang signifikan dalam kemampuan berbahasa Inggris maupun Bahasa Mandarin, termasuk pelajaran lain yang menggunakan Bahasa Inggris. So, what ?

Koreksi ke dalam.

Ada satu kenyataan yang menurut saya harus dengan lapang dada kita terima yaitu SHB bukanlah sekolah Bahasa. Artinya tujuan akhir pendidikkan Harapan Bangsa bukan pada kemampuan bahasa. (Bukan alasan yang dicari-cari untuk pembenaran). Hal lain adalah sebagaian besar dari kami para guru mengalami kesulitan untuk menciptakan suasana berbahasa Inggris maupun Mandarin. Karena baik siswa maupun guru tidak semua mempunyai latar belakang Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin yang baik. Kalau dirunut ke belakang, ada perasaan tidak fair di hati sebagian rekan-rekan guru. Ketika mereka direkrut menjadi guru SHB tidak ada suatu nota kesepakatan yang jelas bahwa menjadi guru SHB harus fasih berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Kemudian dalam perjalanan menjadi guru di sekolah ini guru dituntut untuk menggunakan Bahasa Inggris. Memang saya mengakui ada banyak usaha yang pernah dilakukan seperti yang kita lihat “English Please”. Program ini sudah ada sejak tiga tahun lalu namun efeknya tidak cukup ampuh untuk menciptakan suasana itu. Hal lain yang sangat penting untuk diketahui bahwa SHB masih harus mengikuti UAN. Mau tidak mau anak-anak kita pada level lima dan enam harus d drill dalam Bahasa Indonesia. Tidak bermaksud membela diri, namun itulah kenyataan yang kami alami di sekolah. Untuk kelas satu dua atau tiga mungkin masih kelihatan intensifnya penggunaan bahasa asing tersebut.

Mencari solusi

Dalam rapat bulanan guru-guru SD pada tanggal 14 September 2006, masalah ini mencuat kepermukaan. Solusi yang sudah ada dan sedang berjalan saat ini adalah pelatihan untuk Bapak/Ibu guru bersama dengan expert dan guru-guru ESL yang lain. Kesepakatan lain yang juga cukup penting untuk dicatat adalah ditetapkannya hari Jumat sebagai English Day. Jadi pada hari Jumaat itu guru dan para siswa dipastikan berbahasa Inggris dimana saja. Sejalan dengan itu ada satu catatan penting yaitu bahwa pemberian dengan Cuma-Cuma itu harus diterima dengan penuh tanggung jawab. Mereka yang sudah mendapat kesempatan untuk dibimbing diharapkan untuk memanfaatkan peluang. Kita mempunyai komitmen untuk tiak pernah berhenti berharap dan berusaha demi anak-anak Harapana Bangsa pada khususnya dan Sekolah ini pada umumnya. Selamat bercasciscus. Sabinus Sahaka

Membangun SHB berkwalitas

May 16, 2008

Membangun SHB Berkwalitas.

Pendidikan BERKWALITAS adalah salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM). Manusia berkwalitas (secara akademik, moral dan kepemimpinan) mempunyai makna strategis dalam pembangunan sebuah bangsa. Artinya arah masa depan pembangunan bangsa ditentukan oleh manusia dengan pendidikan berkwalitas. Pendidikan berkwalitas ditimba hanya pada level sekolah yang juga berkwalitas dalam arti yang sebenarnya. Dalam perjalanannya, Pendidikan Sekolah Harapan Bangsa masih terus berusaha menjawab tuntutan masyarakat global saat ini yaitu pendidikan berkwalitas yang mampu menjawab kebutuhan pasar. Dalam konteks kwalitas pendidikan, berarti mencakup proses pendidikan dan hasil pendidikan. Kwalitas dalam arti proses erat kaitannya dengan kelengkapan fasilitas belajar yang dimiliki sekolah. Kwalitas dalam arti hasil pendidikan terungkap pada rata-rata hasil ujian, kesiapan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, kemampuan dan sikap mental memasuki dunia kerja.

Kwalitas Pendidikan Harapan Bangsa

Secara internal, kwalitas pendidikan Harapan Bangsa tidak tertinggal dibandingkan sekolah swasta lain di Propinsi Banten. Secara umum dapat dikatakan di atas stdandar rata-rata yang ditetapkan Dinas Pendidikan Nasional. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata UAN yang diadakan setiap tahun. Keberhasilan tersebut tentu saja tidak terlepas dari peran para Kepala Sekolah, guru, staf dan didukung oleh Yayasan Pendidikan Harapan Bangsa. Kurikulum Sekolah Harapan Bangsa didisain untuk membentuk pribadi-pribdai berkwalitas dan siap menghadapi dunia kerja. Sistem pengajaran yang merupakan perpaduan antara Kurikulum Nasional dan Kurikulum Singapura, sarana dan prasarana pengajaran seperti lab komputer, ruang musik, perpustakaan, penerapan bilingual, akses internet turut menciptakan iklim pendidikan berkwalitas.

Tantangan Pendidikan Harapan Bangsa

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, SHB perlu tanggap dan menentukan langkah sistematis agar tidak ketinggalan dalam kompetisi dengan sekolah lain. Perlu adanya modifikasi dan penyesuaian dengan situasi aktual masa kini. Faktor-faktor yang wajib mendapat perhatian adalah; proses perubahan, kemajuan teknologi informasi dan manajeman kwalitas.

a. Tantangan Globalisasi

Globalisasi telah mempengaruhi kehidupan manusia secara pribadi atau kelompok, baik langsung atau tidak. Adanya organisasi AFTA, NAFTA, APEC telah banyak memberikan pengaruh terhadap kebijakan dalam institusi pendidikan. Masuknya investor asing serta peluang mendidirkan sekolah dalam negeri menambah marak kompetisi dalam dunia pendidikan. Apabila SHB tidak tanggap akan perubahan global terutama tuntutan kwalitas dunia pendidikan maka kita akan ketinggalan dari sekolah lain.

b. Tantangan Teknologi

Kemajuan teknologi informasi membantu perkembangan dan mutu pendidikan. Adanya sarana belajar mengajar seperti perangkat komputer dan audiovisual, akses internet dapat meningkatkan antusias belajar siswa sekaligus meningkatnya kwalitas belajar siswa dalam kelas. Kemajuan teknologi juga sangat menolong penerapan kurikulum yang pada level tertentu sulit dicerna para siswa apabila dijelaskan secara verbal atau dengan metode tradisional. Kesigapan dalam bidang teknologi akan membantu kemasyuran dan kwalitas pengajaran karena interaksi dalam kelas menjadi lebih hidup dan aktual.

c. Manjajemen kwalitas

Kwalitas (proses maupun hasil) selalu menjadi indikator kunci atas maju mundurnya isntitusi pendidikan. Sekolah tanpa kwalitas mengarah kepada kemandekan dan kerdil. Pendidikan berkwalitas sebaliknya menjadi ikon, tujuan dan harapan semua orang. Seorang pemimpin ( Yayasan) hendaknya menyadari ikhwal kwalitas institusi sekolah yang diampunya. Kwalitas harus dimanage dengan benar. Ada mekanisme, system yang jelas mulai dari rekrutmen para pendidik, kompetensi akademik serta komitmen dalam pelayanan pendidikan. Hal yang sama juga berlaku dalam penerimaan siswa. Harus ada standar minimal yang jelas mengenai kompetensi akademik siswa yang masuk Sekolah Harapan Bangsa. Ketika hal itu tidak dilakukan maka menjadi persoalan tersendiri yang cukup rumit. Deputy Chairman Sekolah Harapan Bangsa, Ibu Indra T. Honoris dalam konteks manajemen kwalitas sudah cukup peka dan memberi lampu kuning kepada sekolah. Hal itu mencuat ketika SHB menyelenggarakan event SHB CUP 2008 gagal dalam perolehan peringkat satu dalam cabang lomba tertentu. Menurut beliau SHB CUP tidak lagi menjadi promosi untuk SHB melainkan promosi gratis untuk sekolah luar. Ketidakpuasan beliau pantas untuk direnungkan oleh semua pihak tanpa saling menyalahkan. Ini sebuah cerminan betapa beliau ingin menata SHB menjadi institusi yang berkwalitas bagi pembentukan generasi masa depan yang andal dan siap terjun dalam dunia kerja. Beliau tidak ingin siswa SHB hanya menang performance secara fisik, tetapi secara content harus benar-benar dibuktikan tidak hanya dalam skala lokal tetapi juga nasional.

Harapan Kita Kedepan

Para pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Bangsa tentu menggantungkan satu harapan bahwa SHB dapat menjadi salah satu persemaian utama pembentukan manusia yang secara integritas di pertanggungjawabkan. Manusia yang mempunyai integritas tercipta dalam alam pendidikan berkwalitas. Pendidikan berkwalitas dihasilkan oleh para pelaku pendidikan yang secara individu dan “teamwork” juga berkwalitas.

Sekolah sebagai sebuah sistem hendaknya membangun kultur dan prestasi belajar. Kultur dan prestasi akan berpengaruh pada keberhasilan belajar siswa di sekolah. Saya teringat akan sebuah sekolah swasta di Jakarta Barat. Siswa merasakan sekolah sebagai sebuah keluarga. Mereka merasa “at home” dan memiliki sekolah itu. Hubungan dengan guru dan murid juga tampak seperti ayah dan anak. Oleh sebab itu siswa tidak melihat sekolah dan guru sebagai momok yang membebani dirinya melainkan sebagai kebutuhan layaknya kita bernafas.

Kwalitas sekolah hanya terwujud apabila semua komponen di sekolah; yayasan, principal, guru dan karyawan menyadari, sekolah sebuah sistem organik atau sistem manusiawi, di mana hubungan kekerabatan antar individu yang terlibat merupakan kunci berlangsungnya sistem. Sebuah sistem berjalan bila ada teamwork yang baik. Sejatinya, kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghargai dan menghormati tentu tak boleh diabaikan.

Sebagai sekolah yang menyandang nilai plus, perlu kiranya Yayasan Pendidikan Harapan Bangsa lebih cermat dalam hal perencanaan (planning) dan pelaksanaan program (action), pengawasan (monitoring) sampai pada tahap evaluasi (evaluation) sehingga tidak terkesan seperti keputusan intant dan asal jadi. Perlakuan ini diterapkan pada semua level, TK, SD,SLTP dan SLTA. Makna keteraturan, kedisiplinan dan kerja keras, dan keberhasilan akan terukur dari keempat hal yang disebutkan di atas.

Sabinus Sahaka

Sertifikasi guru

May 16, 2008

SCF0009.JPG Sertifikasi Guru dan Dosen: Melihat Skala prioritas

Saya mengikuti sedikit perkembangan isu sertifikasi guru, yang selengkapnya tertuang dalam UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD melalui surat kabar. Niat program ini tentu saja sangat mulia. Karena tujuannya adalah meningkatkan kwalitas guru sebagai garda terdepan kemajuan pendidikan di Indonesia. Harapannya, dengan bekal kwalifikasi itu mereka akan mengabdi kepada anak didik lebih professional dan bertanggung jawab. Itikat baik Pemerintah kita untuk memajukan kualitas pendidikan nasional perlu diapresiasi positif. Dengan bergulirnya isu ini bearti pemerintah “memenuhi” janji alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Jika pemerintah sudah sedemikian berbelas kasih melalui program ini tentu saja guru menyambut dengan sangat antusias untuk menjalankannya. Dalam aplikasinya tentu saja mendapat tanggapan beragam. Sadar atau tidak, dikehendaki atau tidak, terdapat muatan “ketidakadilan” yang dirasakan.

Sertifikasi atau sarana belajar.

Kalau dilihat secara holistik pendidikan di Indonesia, maka kita akan melihat ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan ketimbang sertifikasi. Saat ini terdapat begitu banyak bangunan sekolah yang butuh pembenahan secara fisik atau operasional. Sarana perpustakaan, alat peraga, dan meja dan bangku duduk yang layak. Saya pernah menyaksikan tayangan televisi tentang pendidikan di salah satu daerah pedalaman. Betapa menyedihkan! Siswa belajar, tanpa alat tulis. Pokoknya serba kekurangan. Gurupun mengajar dengan sarana belajar yang serba minim. Bagaimana dengan daerah pedalaman lain di wilayah Indonesia yang belum terjamah peradaban metropolitan? Mereka tentu saja sulit berpikir rumit untuk sertifikasi, mengumpulkan portofolio dan persyaratan lainnya. mendapatkan sarana belajar saja, barangkali sudah kebanggaan buat mereka. Karena pendidikan yang berhasil tidak melulu dari kecerdasan guru semata. Sarana dan prasarana belajar lain juga tidak bisa begitu saja diabaikan.

Pandangan yang salah tentang Sertifikasi

Ada fenomena yang kurang menarik dalam aplikasi sertifikasi. Ada anggapan bahwa sertifikasi adalah peningkatan kesejahteraan. Ada tambahan penghasilan bagi mereka yang memang lulus sertifikasi. Pemerintah dalam hal ini memberikan tunjangan profesi yang setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Padahal menurut saya penghasilan hanya sebagai akibat dari profesionalisme itu sendiri. Jadi bukan tujuan. Kekhawatiran saya, sertifikasi akan bergeser dari tujuannya yang mulia itu, peningkatan profesionalisme guru. Hal yang ditakutkan adalah, jika mega proyek ini menjadi lahan praktek “ketidakjujuran”. Sistem kedekatan, perkoncoan dan kepentingan ikut berperan. Kalau demikian adanya maka profesi guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru menjadi sebuah ironi.

Harapan ke depan

Satu hal yang penting diperjuangkan adalah kesejathteraan guru. Sertifikasi dan segala kelengkapannya tidak masalah, tetapi lebih arif jika peningkatakn pendapatan guru dilakukan. Usaha peningkatan pendapatan seharusnya tidak disyaratkan dengan sertifikasi. Sebab guru telah menjalankan kewajiban sebagaimana disyaratkan ketika diterima sebagai guru.

Biarkanlah guru-guru mengembangkan dirinya dengan adanya sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan, dan gaji layak. Soal sertifikasi, tatar menatar, pendidikan tambahan, dan sterusnya biar berjalan seirama dan atau setalah gaji guru memadai. Menurut hemat saya, kendala utama bagi guru untuk mengembangkan dirinya adalah masalah kesejahteraan. Guru berkutat dengan utang kredit setiap bulan, anak-anak sekolah, kebutuhan sehari, rumah sakit dan lain sebagainya. Maka ia (guru) lebih mengutamakan persoalan keluarga ketimbang peningkatan profesionalitas melalui pelatihan workshop, seminar, atau apapun. Kiranya terbukti sudah, kebijakan ‘pembinaan’ guru selama ini, sekalipun menghabiskan dana tidak sedikit, hasilnya hanya satu: kualitas pendidikan memprihatinkan.

Sekolah Katolik /Kristen beri contoh.

Menjadi garam dan terang dunia. Itulah amant Kristus kepada semua pengikut-Nya. Sekolah-sekolah Katolik atau yayasan yang memakai embel-embel Katolik harus sadar betul visi dan misinya yaitu menjadai garam dan terang dunia. Menciptakan kondisi ekonomi yang layak bagi para guru harus segera dilakukan sekarang juga. Jangan ditunda! Hal yang sama berlaku untuk yayasan-yayasan berembel Katolik. Pandanglah guru sebagai rekan kerja, bukan sebagai sapi perah. Urungkan niat untuk membuka cabang sebelum guru yang mengajar di sekolah-sekolah Katolik sejahtera. Bisnis penting tetapi sikap kemanusian adalah adalah segalanya. Amanat Kristus yang utama, maka yang lain akan ditambahkan. SS.


Hello world!

May 15, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.