Berkaca pada Cermin Retak

BERKACA PADA CERMIN RETAK

Pepatah klasik mengatakan demikian; “Pengalaman adalah guru yang baik”. Dikatakan

guru yang baik karena dari pengalaman-pengalaman itulah kita dapat belajar.

Tentu saja pengalaman yang membangun kepribdian secara

utuh sehingga menjadi lebih baik, sadar tentang apa yang salah dan berusaha mengendalikan

diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Hal yang dapat dijadikan contoh adalah

ketika seorang anak berusia tiga atau empat tahun bermain-main dengan pisau dapur lalu

tangan anak itu terluka. Anak itu menangis keras dan ketakutan karena banyak darah yang keluar. Lalu ibunya menasehati agar anaknya tidak bermain pisau lagi. “Lihatlah

akibatnya, tanganmu luka dan berdarah”, kata ibunya sambil marah-marah.

Di kritik adalah salah satu pengalaman berharga yang bisa membangunkan kita dari

kemapanan. Apa yang menurut kita sudah baik dan benar lalu dikritik. Rasanya sakit, bukan ? Namun bila kita terbuka terhadap kritikan itu mungkin kita mendapat suatu pelajaran yang berharga disana.

Awal tahun ajaran 2006/2007 telah diadakan pertemuan antara orang tua murid dan guru di Sekolah Harapan Bangsa. Disela-sela pertemuan itu dibagikan sebuah kuisoner yang maksudnya adalah meminta pendapat orang tua siswa tentang segala hal yang berhubungan dengan sekolah. Kalau saya membuat grafik perbandingan, masalah yang paling sering disorot adalah masalah yang berhubungan dengan pemakaian Bahasa Inggris dalam pengajaran di kelas-kelas maupun dalam percakapan sehari-hari dengan para siswa di sekolah. Mereka ternyata (orang tua) secara “diam-diam” mengamati para guru pada khususnya dan karyawan SHB pada umumnya. Dari sana saya berpikir kenapa hal itu sangat diperhatikan. Akhirnya saya sampai pada satu jawaban. O ya, orang tua betul. Sebab promosinya adalah “Daily intensive English and Chinese”. Sebagian orang tua yang telah mempercayakan anak-anaknya untuk dididik di sekolah ini melihat slogan itu tidak lebih dari iklan semata. Promosi itu dalam kenyataannya kurang bahkan bisa dikatakan sangat kurang. Orang tua merasa sudah menjalankan kewajibannya berupa membayar uang sekolah dan uang pangkal yang cukup mahal harus menerima kenyataan bahwa anaknya tidak mengalami kemajuan yang signifikan dalam kemampuan berbahasa Inggris maupun Bahasa Mandarin, termasuk pelajaran lain yang menggunakan Bahasa Inggris. So, what ?

Koreksi ke dalam.

Ada satu kenyataan yang menurut saya harus dengan lapang dada kita terima yaitu SHB bukanlah sekolah Bahasa. Artinya tujuan akhir pendidikkan Harapan Bangsa bukan pada kemampuan bahasa. (Bukan alasan yang dicari-cari untuk pembenaran). Hal lain adalah sebagaian besar dari kami para guru mengalami kesulitan untuk menciptakan suasana berbahasa Inggris maupun Mandarin. Karena baik siswa maupun guru tidak semua mempunyai latar belakang Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin yang baik. Kalau dirunut ke belakang, ada perasaan tidak fair di hati sebagian rekan-rekan guru. Ketika mereka direkrut menjadi guru SHB tidak ada suatu nota kesepakatan yang jelas bahwa menjadi guru SHB harus fasih berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Kemudian dalam perjalanan menjadi guru di sekolah ini guru dituntut untuk menggunakan Bahasa Inggris. Memang saya mengakui ada banyak usaha yang pernah dilakukan seperti yang kita lihat “English Please”. Program ini sudah ada sejak tiga tahun lalu namun efeknya tidak cukup ampuh untuk menciptakan suasana itu. Hal lain yang sangat penting untuk diketahui bahwa SHB masih harus mengikuti UAN. Mau tidak mau anak-anak kita pada level lima dan enam harus d drill dalam Bahasa Indonesia. Tidak bermaksud membela diri, namun itulah kenyataan yang kami alami di sekolah. Untuk kelas satu dua atau tiga mungkin masih kelihatan intensifnya penggunaan bahasa asing tersebut.

Mencari solusi

Dalam rapat bulanan guru-guru SD pada tanggal 14 September 2006, masalah ini mencuat kepermukaan. Solusi yang sudah ada dan sedang berjalan saat ini adalah pelatihan untuk Bapak/Ibu guru bersama dengan expert dan guru-guru ESL yang lain. Kesepakatan lain yang juga cukup penting untuk dicatat adalah ditetapkannya hari Jumat sebagai English Day. Jadi pada hari Jumaat itu guru dan para siswa dipastikan berbahasa Inggris dimana saja. Sejalan dengan itu ada satu catatan penting yaitu bahwa pemberian dengan Cuma-Cuma itu harus diterima dengan penuh tanggung jawab. Mereka yang sudah mendapat kesempatan untuk dibimbing diharapkan untuk memanfaatkan peluang. Kita mempunyai komitmen untuk tiak pernah berhenti berharap dan berusaha demi anak-anak Harapana Bangsa pada khususnya dan Sekolah ini pada umumnya. Selamat bercasciscus. Sabinus Sahaka

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: