Sertifikasi guru

SCF0009.JPG Sertifikasi Guru dan Dosen: Melihat Skala prioritas

Saya mengikuti sedikit perkembangan isu sertifikasi guru, yang selengkapnya tertuang dalam UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD melalui surat kabar. Niat program ini tentu saja sangat mulia. Karena tujuannya adalah meningkatkan kwalitas guru sebagai garda terdepan kemajuan pendidikan di Indonesia. Harapannya, dengan bekal kwalifikasi itu mereka akan mengabdi kepada anak didik lebih professional dan bertanggung jawab. Itikat baik Pemerintah kita untuk memajukan kualitas pendidikan nasional perlu diapresiasi positif. Dengan bergulirnya isu ini bearti pemerintah “memenuhi” janji alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Jika pemerintah sudah sedemikian berbelas kasih melalui program ini tentu saja guru menyambut dengan sangat antusias untuk menjalankannya. Dalam aplikasinya tentu saja mendapat tanggapan beragam. Sadar atau tidak, dikehendaki atau tidak, terdapat muatan “ketidakadilan” yang dirasakan.

Sertifikasi atau sarana belajar.

Kalau dilihat secara holistik pendidikan di Indonesia, maka kita akan melihat ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan ketimbang sertifikasi. Saat ini terdapat begitu banyak bangunan sekolah yang butuh pembenahan secara fisik atau operasional. Sarana perpustakaan, alat peraga, dan meja dan bangku duduk yang layak. Saya pernah menyaksikan tayangan televisi tentang pendidikan di salah satu daerah pedalaman. Betapa menyedihkan! Siswa belajar, tanpa alat tulis. Pokoknya serba kekurangan. Gurupun mengajar dengan sarana belajar yang serba minim. Bagaimana dengan daerah pedalaman lain di wilayah Indonesia yang belum terjamah peradaban metropolitan? Mereka tentu saja sulit berpikir rumit untuk sertifikasi, mengumpulkan portofolio dan persyaratan lainnya. mendapatkan sarana belajar saja, barangkali sudah kebanggaan buat mereka. Karena pendidikan yang berhasil tidak melulu dari kecerdasan guru semata. Sarana dan prasarana belajar lain juga tidak bisa begitu saja diabaikan.

Pandangan yang salah tentang Sertifikasi

Ada fenomena yang kurang menarik dalam aplikasi sertifikasi. Ada anggapan bahwa sertifikasi adalah peningkatan kesejahteraan. Ada tambahan penghasilan bagi mereka yang memang lulus sertifikasi. Pemerintah dalam hal ini memberikan tunjangan profesi yang setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Padahal menurut saya penghasilan hanya sebagai akibat dari profesionalisme itu sendiri. Jadi bukan tujuan. Kekhawatiran saya, sertifikasi akan bergeser dari tujuannya yang mulia itu, peningkatan profesionalisme guru. Hal yang ditakutkan adalah, jika mega proyek ini menjadi lahan praktek “ketidakjujuran”. Sistem kedekatan, perkoncoan dan kepentingan ikut berperan. Kalau demikian adanya maka profesi guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru menjadi sebuah ironi.

Harapan ke depan

Satu hal yang penting diperjuangkan adalah kesejathteraan guru. Sertifikasi dan segala kelengkapannya tidak masalah, tetapi lebih arif jika peningkatakn pendapatan guru dilakukan. Usaha peningkatan pendapatan seharusnya tidak disyaratkan dengan sertifikasi. Sebab guru telah menjalankan kewajiban sebagaimana disyaratkan ketika diterima sebagai guru.

Biarkanlah guru-guru mengembangkan dirinya dengan adanya sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan, dan gaji layak. Soal sertifikasi, tatar menatar, pendidikan tambahan, dan sterusnya biar berjalan seirama dan atau setalah gaji guru memadai. Menurut hemat saya, kendala utama bagi guru untuk mengembangkan dirinya adalah masalah kesejahteraan. Guru berkutat dengan utang kredit setiap bulan, anak-anak sekolah, kebutuhan sehari, rumah sakit dan lain sebagainya. Maka ia (guru) lebih mengutamakan persoalan keluarga ketimbang peningkatan profesionalitas melalui pelatihan workshop, seminar, atau apapun. Kiranya terbukti sudah, kebijakan ‘pembinaan’ guru selama ini, sekalipun menghabiskan dana tidak sedikit, hasilnya hanya satu: kualitas pendidikan memprihatinkan.

Sekolah Katolik /Kristen beri contoh.

Menjadi garam dan terang dunia. Itulah amant Kristus kepada semua pengikut-Nya. Sekolah-sekolah Katolik atau yayasan yang memakai embel-embel Katolik harus sadar betul visi dan misinya yaitu menjadai garam dan terang dunia. Menciptakan kondisi ekonomi yang layak bagi para guru harus segera dilakukan sekarang juga. Jangan ditunda! Hal yang sama berlaku untuk yayasan-yayasan berembel Katolik. Pandanglah guru sebagai rekan kerja, bukan sebagai sapi perah. Urungkan niat untuk membuka cabang sebelum guru yang mengajar di sekolah-sekolah Katolik sejahtera. Bisnis penting tetapi sikap kemanusian adalah adalah segalanya. Amanat Kristus yang utama, maka yang lain akan ditambahkan. SS.


Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: