Membangun SHB berkwalitas

Membangun SHB Berkwalitas.

Pendidikan BERKWALITAS adalah salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM). Manusia berkwalitas (secara akademik, moral dan kepemimpinan) mempunyai makna strategis dalam pembangunan sebuah bangsa. Artinya arah masa depan pembangunan bangsa ditentukan oleh manusia dengan pendidikan berkwalitas. Pendidikan berkwalitas ditimba hanya pada level sekolah yang juga berkwalitas dalam arti yang sebenarnya. Dalam perjalanannya, Pendidikan Sekolah Harapan Bangsa masih terus berusaha menjawab tuntutan masyarakat global saat ini yaitu pendidikan berkwalitas yang mampu menjawab kebutuhan pasar. Dalam konteks kwalitas pendidikan, berarti mencakup proses pendidikan dan hasil pendidikan. Kwalitas dalam arti proses erat kaitannya dengan kelengkapan fasilitas belajar yang dimiliki sekolah. Kwalitas dalam arti hasil pendidikan terungkap pada rata-rata hasil ujian, kesiapan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, kemampuan dan sikap mental memasuki dunia kerja.

Kwalitas Pendidikan Harapan Bangsa

Secara internal, kwalitas pendidikan Harapan Bangsa tidak tertinggal dibandingkan sekolah swasta lain di Propinsi Banten. Secara umum dapat dikatakan di atas stdandar rata-rata yang ditetapkan Dinas Pendidikan Nasional. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata UAN yang diadakan setiap tahun. Keberhasilan tersebut tentu saja tidak terlepas dari peran para Kepala Sekolah, guru, staf dan didukung oleh Yayasan Pendidikan Harapan Bangsa. Kurikulum Sekolah Harapan Bangsa didisain untuk membentuk pribadi-pribdai berkwalitas dan siap menghadapi dunia kerja. Sistem pengajaran yang merupakan perpaduan antara Kurikulum Nasional dan Kurikulum Singapura, sarana dan prasarana pengajaran seperti lab komputer, ruang musik, perpustakaan, penerapan bilingual, akses internet turut menciptakan iklim pendidikan berkwalitas.

Tantangan Pendidikan Harapan Bangsa

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, SHB perlu tanggap dan menentukan langkah sistematis agar tidak ketinggalan dalam kompetisi dengan sekolah lain. Perlu adanya modifikasi dan penyesuaian dengan situasi aktual masa kini. Faktor-faktor yang wajib mendapat perhatian adalah; proses perubahan, kemajuan teknologi informasi dan manajeman kwalitas.

a. Tantangan Globalisasi

Globalisasi telah mempengaruhi kehidupan manusia secara pribadi atau kelompok, baik langsung atau tidak. Adanya organisasi AFTA, NAFTA, APEC telah banyak memberikan pengaruh terhadap kebijakan dalam institusi pendidikan. Masuknya investor asing serta peluang mendidirkan sekolah dalam negeri menambah marak kompetisi dalam dunia pendidikan. Apabila SHB tidak tanggap akan perubahan global terutama tuntutan kwalitas dunia pendidikan maka kita akan ketinggalan dari sekolah lain.

b. Tantangan Teknologi

Kemajuan teknologi informasi membantu perkembangan dan mutu pendidikan. Adanya sarana belajar mengajar seperti perangkat komputer dan audiovisual, akses internet dapat meningkatkan antusias belajar siswa sekaligus meningkatnya kwalitas belajar siswa dalam kelas. Kemajuan teknologi juga sangat menolong penerapan kurikulum yang pada level tertentu sulit dicerna para siswa apabila dijelaskan secara verbal atau dengan metode tradisional. Kesigapan dalam bidang teknologi akan membantu kemasyuran dan kwalitas pengajaran karena interaksi dalam kelas menjadi lebih hidup dan aktual.

c. Manjajemen kwalitas

Kwalitas (proses maupun hasil) selalu menjadi indikator kunci atas maju mundurnya isntitusi pendidikan. Sekolah tanpa kwalitas mengarah kepada kemandekan dan kerdil. Pendidikan berkwalitas sebaliknya menjadi ikon, tujuan dan harapan semua orang. Seorang pemimpin ( Yayasan) hendaknya menyadari ikhwal kwalitas institusi sekolah yang diampunya. Kwalitas harus dimanage dengan benar. Ada mekanisme, system yang jelas mulai dari rekrutmen para pendidik, kompetensi akademik serta komitmen dalam pelayanan pendidikan. Hal yang sama juga berlaku dalam penerimaan siswa. Harus ada standar minimal yang jelas mengenai kompetensi akademik siswa yang masuk Sekolah Harapan Bangsa. Ketika hal itu tidak dilakukan maka menjadi persoalan tersendiri yang cukup rumit. Deputy Chairman Sekolah Harapan Bangsa, Ibu Indra T. Honoris dalam konteks manajemen kwalitas sudah cukup peka dan memberi lampu kuning kepada sekolah. Hal itu mencuat ketika SHB menyelenggarakan event SHB CUP 2008 gagal dalam perolehan peringkat satu dalam cabang lomba tertentu. Menurut beliau SHB CUP tidak lagi menjadi promosi untuk SHB melainkan promosi gratis untuk sekolah luar. Ketidakpuasan beliau pantas untuk direnungkan oleh semua pihak tanpa saling menyalahkan. Ini sebuah cerminan betapa beliau ingin menata SHB menjadi institusi yang berkwalitas bagi pembentukan generasi masa depan yang andal dan siap terjun dalam dunia kerja. Beliau tidak ingin siswa SHB hanya menang performance secara fisik, tetapi secara content harus benar-benar dibuktikan tidak hanya dalam skala lokal tetapi juga nasional.

Harapan Kita Kedepan

Para pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Bangsa tentu menggantungkan satu harapan bahwa SHB dapat menjadi salah satu persemaian utama pembentukan manusia yang secara integritas di pertanggungjawabkan. Manusia yang mempunyai integritas tercipta dalam alam pendidikan berkwalitas. Pendidikan berkwalitas dihasilkan oleh para pelaku pendidikan yang secara individu dan “teamwork” juga berkwalitas.

Sekolah sebagai sebuah sistem hendaknya membangun kultur dan prestasi belajar. Kultur dan prestasi akan berpengaruh pada keberhasilan belajar siswa di sekolah. Saya teringat akan sebuah sekolah swasta di Jakarta Barat. Siswa merasakan sekolah sebagai sebuah keluarga. Mereka merasa “at home” dan memiliki sekolah itu. Hubungan dengan guru dan murid juga tampak seperti ayah dan anak. Oleh sebab itu siswa tidak melihat sekolah dan guru sebagai momok yang membebani dirinya melainkan sebagai kebutuhan layaknya kita bernafas.

Kwalitas sekolah hanya terwujud apabila semua komponen di sekolah; yayasan, principal, guru dan karyawan menyadari, sekolah sebuah sistem organik atau sistem manusiawi, di mana hubungan kekerabatan antar individu yang terlibat merupakan kunci berlangsungnya sistem. Sebuah sistem berjalan bila ada teamwork yang baik. Sejatinya, kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghargai dan menghormati tentu tak boleh diabaikan.

Sebagai sekolah yang menyandang nilai plus, perlu kiranya Yayasan Pendidikan Harapan Bangsa lebih cermat dalam hal perencanaan (planning) dan pelaksanaan program (action), pengawasan (monitoring) sampai pada tahap evaluasi (evaluation) sehingga tidak terkesan seperti keputusan intant dan asal jadi. Perlakuan ini diterapkan pada semua level, TK, SD,SLTP dan SLTA. Makna keteraturan, kedisiplinan dan kerja keras, dan keberhasilan akan terukur dari keempat hal yang disebutkan di atas.

Sabinus Sahaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: